Tuesday, August 3, 2010

Fenomena Alay

Belakangan ini kita digaungi dengan suatu jargon pada kalangan remaja. "Anak Lebai" a.k.a berlebihan akhir - akhir ini sering diutarakan oleh sesama remaja. seseorang yang bersikap, bertutur, bertingkah laku tidak seperti kebanyakan remaja lainnya sering disebut alay. Panggilan tersebut kemudian berkembang jadi suatu hal untuk mendiskreditkan kalangan tertentu, bahkan individu tertentu. seseorang yang dipanggil alay oleh teman mainnya sendiri terkesan lebih buruk dibanding teman yang lainnya.

Alay muncul dari adanya suatu komunitas yang bertingkah laku tidak wajar. seperti berpakaian tidak sepantasnya, berbicara terlalu ekstrim, serta hal - hal lain yang mengganggu ketentraman orang disekitarnya. Dalam pandangan saya, kaum alay berada dibawah tingkatan 'preman'. Mereka berpakaian berlebihan, kadang berkata asal sesuka hati, namun belum sampai berbuat anarkis.

Kaum alay, pada awalnya memang sesuatu yang tidak disukai masyarakat, kadang perilakunya suka membuat orang yang melihatnya merasa jengah. Tindakan-tindakan sepele yang seharusnya terlihat 'biasa saja' suka dibuat 'overacting' oleh mereka. seperti mengendarai motor dengan gas yang sengaja dikencengin, status-status di situs jejaring sosial yang ditulis dengan TulIs@n BeZZ@r Kec1L yang membuat mata sepet dan sipit.

Perkembangan jargon alay demikian cepatnya, sehingga mereka yang bertindak sedikit diluar jalur, sudah bisa mendapat predikat alay dari temannya tanpa perlu berpakaian ala punk.

Seperti apa ukuran alay pun mulai mendekati area abu-abu. sedikit salah mengungkapkan perasaan, bisa membuat orang yang bersangkutan disebut alay. sehingga over-excitement, over-expressed, over-happy, over-sad disamaratakan dengan ungkapan overacting dengan bahasa Indonesia alay.
bahkan tulisan ini bisa disebut perwujudan alay lainnya.
Penilaian pada gray area inilah yang harus ditinjau ulang, agar pemakaian kata alay tidak misappropriate sehingga tidak banyak pihak yang merasa tersakiti. dalam kondisi tertentu, ungkapan alay bisa tidak bermakna apapun, namun bisa juga menjadi suatu hal yang menyakiti. sebab dalam kehidupan kita sebagai manusia sosial, interaksi menjadi kunci hubungan silaturahmi dengan yang lain.

Massive trend seperti ini pada akhirnya akan digantikan dengan trend - trend lainnya. Akan berkembang dengan adanya orang-orang seperti saya, yang meributkan hal-hal kecil. mana yang benar maupun yang salah sungguh sangat relatif dengan pandangan orang terhadap suatu hal. Pada akhirnya common thing akan menang, pihak-pihak minoritas terus menjadi minoritas, siklus seperti itulah yang harus diketahui dan disadari oleh orang-orang, sehingga mereka mampu berkompromi dengan kehidupan.

(*skripsi mode on. Alay dan ababil bisa juga dijadiin bahan skripsi, hahaha)