Pertanyaan itu muncul lagi..
Lagi dan lagi, pertanyaan itu dilontarkan, kali ini oleh orang terdekatku.
untuk sekarang aku tidak begitu peduli dengan apa yang mereka bilang, walaupun kadang sering sakit hati jika terus-terusan disinggung, ditanya, dan ditekan dengan pertanyaan tersebut, kadang tertawa, kadang membantah, kadang senyum, kadang marah. Sampai capai aku menanggapinya.
Satu tahun lalu, jika pertanyaan ini dilontarkan, aku akan berpikir keras dan sampai pada titik sensitif yang paling dalam.
Namun jika kali ini aku ditanya demikian, reaksiku tidak separah itu, bahkan pertanyaan itu bisa hanya merupakan pertanyaan intermezzo. Hal ini karena pikiranku sedang diisi oleh hal lain yang lebih penting, tetapi bohong jika aku tidak terpengaruh oleh pertanyaan itu, menurutku hanya tinggal menunggu waktu untuk sensitifitas itu datang kembali, apalagi seiring bertambahnya usia.
Yang aku pikirkan adalah, Hey, aku juga khawatir masalah itu, bahkan jika disebutkan, akulah orang yang paling menderita tentang masalah tersebut. Seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Jangan menambahkan kekhawatiranku dengan kekhawatiranmu tentang aku. Jika ingin menunjukkan rasa simpati, lakukanlah dengan bijaksana. Dan aku akan menerima.
Jika aku diberi kesempatan untuk memilih hidupku, aku ingin seperti sherina, yang sejak kecil diarahkan ke suatu objek, dan setelah dewasa mampu menentukan hidupnya, atau seperti Arzety bilbina yang memilih jalan secara elegan, dan pada akhirnya mendapat kehidupan yang seattle bersama keluarganya, atau seperti Sri Mulyani yang diberkahi kepintaran dan keberanian (tanpa mengetahui kerasnya jalan yang mereka tempuh).
Namun, aku sangat nyaman menjadi diriku dengan segala kekuranganku, dan kenaifanku. Sehingga jika pertanyaan itu muncul, aku percaya jika aku hidup dengan berfokus pada tujuanku, seperti apa yang ketiga tokoh diatas lakukan, pertanyaan itu secara tidak langsung akan terjawab. Justru aneh jika aku menjalani hidup dengan pertanyaan itu sebagai tujuan, dan passion ku sebagai sampingan. Justru aneh jika aku mengesampingkan hidupku untuk menjawab pertanyaan itu, kata orang bule, its pathetic.
Karena akupun percaya bahwa kuasa Tuhan adalah yang utama. Bahwa jika saat ini pertanyaan itu belum bisa aku jawab, maka ini hanya masalah waktu. Bahwa Tuhan telah menyiapkan jawaban spektakuler untukku menjawab pertanyaan mereka.
Bahwa Tuhan melihatku belum sanggup menanggung jawaban pertanyaan itu saat ini. Bahwa Tuhan selalu memberikan sesuatu yang sanggup ditangani oleh makhluknya, atau seperti yang temanku bilang, bahwa Tuhan masih melindungiku dengan cara-Nya yang luar biasa.
Semua hal tersebut kupercayai dan kuyakini, sehingga saat ini aku sedang memfokuskan pikiran untuk passionku, yang belum kutemukan.
Mungkin juga caraku berdoa harus diperbaiki, seperti kata seorang motivator bahwa jika ingin Jawaban Pertanyaan yang spektakuler, maka berdoalah untuk mempersiapkan diri, membuat diri menjadi pantas mendapatkan Jawaban yang spektakuler.
Dan aku yakin, suatu saat nanti, ini hanya masalah waktu, entah satu hari, satu bulan, satu tahun, dua tahun, tiga tahun, atau sepuluh tahun nanti, pada pagi hari saat aku berangkat kantor, secara mengejutkan sebuket mawar merah akan tertaruh rapih dan indah di meja kerjaku.
Lagi dan lagi, pertanyaan itu dilontarkan, kali ini oleh orang terdekatku.
untuk sekarang aku tidak begitu peduli dengan apa yang mereka bilang, walaupun kadang sering sakit hati jika terus-terusan disinggung, ditanya, dan ditekan dengan pertanyaan tersebut, kadang tertawa, kadang membantah, kadang senyum, kadang marah. Sampai capai aku menanggapinya.
Satu tahun lalu, jika pertanyaan ini dilontarkan, aku akan berpikir keras dan sampai pada titik sensitif yang paling dalam.
Namun jika kali ini aku ditanya demikian, reaksiku tidak separah itu, bahkan pertanyaan itu bisa hanya merupakan pertanyaan intermezzo. Hal ini karena pikiranku sedang diisi oleh hal lain yang lebih penting, tetapi bohong jika aku tidak terpengaruh oleh pertanyaan itu, menurutku hanya tinggal menunggu waktu untuk sensitifitas itu datang kembali, apalagi seiring bertambahnya usia.
Yang aku pikirkan adalah, Hey, aku juga khawatir masalah itu, bahkan jika disebutkan, akulah orang yang paling menderita tentang masalah tersebut. Seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Jangan menambahkan kekhawatiranku dengan kekhawatiranmu tentang aku. Jika ingin menunjukkan rasa simpati, lakukanlah dengan bijaksana. Dan aku akan menerima.
Jika aku diberi kesempatan untuk memilih hidupku, aku ingin seperti sherina, yang sejak kecil diarahkan ke suatu objek, dan setelah dewasa mampu menentukan hidupnya, atau seperti Arzety bilbina yang memilih jalan secara elegan, dan pada akhirnya mendapat kehidupan yang seattle bersama keluarganya, atau seperti Sri Mulyani yang diberkahi kepintaran dan keberanian (tanpa mengetahui kerasnya jalan yang mereka tempuh).
Namun, aku sangat nyaman menjadi diriku dengan segala kekuranganku, dan kenaifanku. Sehingga jika pertanyaan itu muncul, aku percaya jika aku hidup dengan berfokus pada tujuanku, seperti apa yang ketiga tokoh diatas lakukan, pertanyaan itu secara tidak langsung akan terjawab. Justru aneh jika aku menjalani hidup dengan pertanyaan itu sebagai tujuan, dan passion ku sebagai sampingan. Justru aneh jika aku mengesampingkan hidupku untuk menjawab pertanyaan itu, kata orang bule, its pathetic.
Karena akupun percaya bahwa kuasa Tuhan adalah yang utama. Bahwa jika saat ini pertanyaan itu belum bisa aku jawab, maka ini hanya masalah waktu. Bahwa Tuhan telah menyiapkan jawaban spektakuler untukku menjawab pertanyaan mereka.
Bahwa Tuhan melihatku belum sanggup menanggung jawaban pertanyaan itu saat ini. Bahwa Tuhan selalu memberikan sesuatu yang sanggup ditangani oleh makhluknya, atau seperti yang temanku bilang, bahwa Tuhan masih melindungiku dengan cara-Nya yang luar biasa.
Semua hal tersebut kupercayai dan kuyakini, sehingga saat ini aku sedang memfokuskan pikiran untuk passionku, yang belum kutemukan.
Mungkin juga caraku berdoa harus diperbaiki, seperti kata seorang motivator bahwa jika ingin Jawaban Pertanyaan yang spektakuler, maka berdoalah untuk mempersiapkan diri, membuat diri menjadi pantas mendapatkan Jawaban yang spektakuler.
Dan aku yakin, suatu saat nanti, ini hanya masalah waktu, entah satu hari, satu bulan, satu tahun, dua tahun, tiga tahun, atau sepuluh tahun nanti, pada pagi hari saat aku berangkat kantor, secara mengejutkan sebuket mawar merah akan tertaruh rapih dan indah di meja kerjaku.