Tuesday, February 2, 2010

Road to the city

Hujan malam ini tidak begitu dingin, tidak seperti malam-malam sebelumnya.
Air telah membasahi tanah Depok, Segar.
tapi sebentar lagi aku akan meninggalkan tanah Depok, tidak untuk selamanya, hanya malam ini.

Waktu menunjukkan pukul 8.30 malam, dan kereta ekonomi kota, masih melaju mulus tanpa hambatan.
suasana di dalam kereta sudah hening, banyak penumpang, tapi mereka sudah layu semua, terlelap dalam tidur mereka, setelah satu hari mengadu peruntungan di tempat kerja.
Tapi dalam keheningan lelah itu terdengar alunan campur sari, merdu sekali, penyanyinya seorang lelaki tua gendut, duduk sila di sudut lorong sambil menengadahkan kantong di tangannya. bajunya lusuh, seperti sudah satu minggu tak diganti, wajar saja, jika ia selalu duduk lesehan seperti itu.

Dengan alunan campur sari, kereta mulai memasuki pusat kota, meninggalkan ke-gulita-an Depok, menuju kemegahan Jakarta.
Sorot lampu mobil, lampu-lampu jalanan, semuanya memeriahkan pemandangan malam di Jakarta. Indah!, gumamku

Malam ini, aku dan kawanku ingin berkunjung ke tempat teman kami, kakeknya meninggal, dan baru besok pagi dikuburkan. Kami baru bisa ngelayat ke tempat teman kami, malam hari, sepulang kerja.
Setelah naik kereta ini, masih ada 2 angkutan kota yang menunggu kami untuk dinaiki.
Lelah? tidak! aku menikmati setiap jengkal perjalanan malam itu, aku yakin temanku juga.

Di sekitar daerah kemayoran PRJ, bus kota kami melewati alun-alun kemayoran, suasananya gelap, remang-remang.
tak lama, temanku bertanya.
"ning, apa tuh, disebelah kiri?"
"hah??"
di sebelah kiri jalan banyak "warung" .
Gerobak dorong kecil, berisi minuman-minuman ringan, serta beberapa bangku plastik di sebelahnya. Bangku-bangku plastik itu membentuk barisan, dengan 4 kolom setiap barisnya. dan di bangku itu, terlihat wanita-wanita sedang duduk dengan santainya.

"warung" pertama yang saya lihat diisi oleh 3 wanita berpakaian minim, mereka sedang mengobrol dengan cueknya.
"warung" kedua, berisi 2 wanita berkaos oblong, menunggu dengan bosan, tanpa berbicara satu sama lain, wanita kedua saya lihat masih dibawah umur
"warung" ketiga, hanya ada 1 wanita, duduk anggun selayaknya wanita terhormat, sambil menyisir-nyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya.

haha, aku tercengang, pengalaman pertama melewati daerah kemayoran malam hari. aku dan temanku sama-sama geli melihat hal tersebut, miris.

Perjalananku ke Jakarta malam ini benar-benar "spesial". Saya memang jarang sekali berkeliaran di Jakarta pada malam hari. walaupun sudah sering mendengar bahw Jakarta pada malam hari itu memang "spesial", terbukti dengan adanya buku "Jakarta undercover" dan sebagainya. Ingin rasanya mengelilingi Jakarta lagi pada malam hari.



2 comments:

wully said...

haha.. bisa ning bisa! gw udah duluan, ke ancol, prj, sama mana ya waktu itu.. sayang belom ke kota tua malem hari.. gimana rasanya ya? next destination?

ni2nkdesu said...

Yuxxxx..
kayaknya dulu lo ma adit ada rencana pengen ke kota tua malem2 deh lan..

jadi ga waktu tu?
enak tuh, bis itu kita nginep dimana gitu.. wkwkw