Sudah lama gw nggak menulis Review tentang film. dan film yang beruntung bisa di-review sama gw adalah,, teng terengg.. "Burlesque"kalau kalian cari review yang berkualitas dan 'benar', berarti bukan review ini tempatnya, heheh. ini lebih ke opini pribadi tentang film Burlesque.
Dilihat dari posternya, dan pemerannya pertama kali yang gw pikirin adalah ini film dengan genre kabaret, broadway, or clasic dan semacam itulah. dan gw benar.
kelihatannya sampai saat ini setahu gw film dengan genre-genre kabaret seperti itu belum banyak dibuat, ada Nine dan Burlesque, selain itu gw belum pernah denger *apa gw yang nggak gaul.. huaahaha*
jadi, semacam film penyegar aja buat gw, dance, music, any kind of that, i love to watch it.
tapi untuk film ini, gw ngerasa ini bukan bener-bener film kabaret yang kental. dalam bayangan gw, kabaret itu (atau pertunjukan musik yang seksi) terkesan dark, complicated, full of intrict, and fulfilled with complicated persons too.. makanya gw simpulkan film burlesque ini adalah kabaret ringan. gw yang mengira bakal mengerut dahi saat nonton film ini, yang terjadi malah mengulum senyum dan tawa *haha*. Good either.
Thats, jika dibandingkan dengan film Nine, sungguh jauh kelasnya, tapi film ini membawa rasa "kelegaan" saat selesai nonton, drama teenagers yang dibungkus dengan tema kabaret. itulah kesimpulannya. Beda dengan film Nine yang menonjolkan pertunjukan yang megah dengan segala detailnya serta intrik kehidupan sang director film ini menonjolkan kepolosan, keberuntungan, passion, kerja keras, dan kecantikan, tentang keseksian?? mm.. I dont get it, it's not vulgar either. it just the way it is. haha *bingung kan??*
seorang gadis (CA) dengan mimpi ingin menjadi performer memiliki niat yang kuat untuk mewujudkan mimpinya, dengan nekat ia melamar bekerja di pub Burlesque milik seorang performer senior, Tess (Cherr). Jujur peran Alice oleh cristina aguilera itu adalah sosok yang naif dan "sok polos" gw yakin nggak ada 100% performer sungguhan dengan kepolosan seperti itu. berpikir bahwa semua baik dan terus menjalani semua pekerjaan yang ia inginkan dengan baik pula. dan siapa sangka kepolosannya itu membuat banyak orang terkesan dan tertarik untuk memilikinya, termasuk seorang pengusaha yang mengincar pub itu sejak lama, Marcus. Marcus mulai melancarkan aksi playboy-nya dan diterima oleh Ali dengan polosnya.
Marcus sejak dulu menginginkan Pub milik Tess untuk menyukseskan proyek apartemen yang ingin dia bangun di tanah pub itu, hingga pada akhirnya Tess terlilit hutang dengan kreditor dan tidak memiliki uang untuk melunasinya, marcus datang dengan tawaran membeli pub itu dengan harga mahal.
tidak ada klimaks yang berarti, semua masalah2 kecil bisa langsung diatasi, begitu pula masalah Marcus dan Tess, dengan mudah diatasi oleh Ali.
Yah intinya, saya puas melihat tarian dan pertunjukkan serta semangat dan ke-naifan Ali. namun untuk penyelesaian masalahnya, mengecewakan. tidak bisa dibandingkan dengan Nine.
hemmm,, tapi bagus juga untuk menambah referensi film yang sudah ditonton..
haha, selamat menikmati (ini referensi yang gak banget.. :p)
*btw : wearing skirt is kinda warm and comfortable.. i'm wearing it now, haha
No comments:
Post a Comment