Lebih sulit memaafkan sahabat dibanding memaafkan musuh - agus kuncoro, Adriana, 2013
Tentang rindu akan masa dimana tawa masih tanpa beban, dan memaklumi merupakan standar tertinggi hubungan yang telah dibangun 8 tahun lamanya...
Saya coba menganalisa apa yang sebenarnya terjadi belakangan dalam persahabatan kami. Seperti dulu yang selalu dicoba untuk dipahami pada tiap kejengkelan yang terjadi.
Dalam pernikahan ada yang namanya kawin dan ada yang namanya cerai, hal itu diatur dalam hukum juga diperbolehkan dalam agama meskipun jika sampai pada prakteknya cerai Allah S.W.T sangat tidak menyukainya. Namun saya tidak pernah menyangka bahwa hal tersebut bisa terjadi juga didalam persahabatan. Mungkin terminologinya lebih tepat jika dibalik. Jika pada hubungan persahabatan saja yang bisa jadi lebih dulu kita bina bisa terlepas tali silaturahmi, bagaimana dengan hubungan suami istri, yang baru akan dimulai setelah dewasa. Jelas banyak yang akan berpendapat bahwa namanya hubungan suami istri ada semacam pengikat, yang hubungannya langsung kepada Allah S.W.T. itu benar sekali, saya setuju. Tapi bukankah Allah juga sangat membenci hambanya yang memutus tali silaturahmi, atau bukankah salah satu dosa yang tidak termaafkan adalah dosa mereka yang memutus tali silaturahmi. Sehingga ketika kedua hal tadi sama2 diabaikan, maka dosa yang akan kita tuai. Astaghfirullohaladzim.
Apa mungkin karena hubungan persahabatan bisa saja kita mulai jauh sebelum kita beranjak dewasa sehingga masih kita campuri dengan ego, kecemburuan, dan gengsi. Bisa jadi juga benar., karena dengan sahabat kita seharusnya bisa lebih ikhlas, dengan sahabat kita seharusnya bisa lebih sabar, dan dengan mereka pulalah kita belajar ikhlas dan sabar, atau lebih baiknya lagi kalau kita bisa lbelajar lebih santai. Bahwa yang namanya sahabat pasti akan saling membantu, yang namanya sahabat akan senang jika maju bersama, yang namanya sahabat tidak akan iri akan keberhasilan sahabatnya, karena tiap orang punya rejeki masing-masing. Mungkin bukan iri, tetapi rasa syukur yang kurang dipupuk. Dalam kondisi yang sedang terjadi dengan saya, dimana pada awalnya kami mulai dengan tawa, bersama, dan dengan tingkat kemakluman yang tinggi, entah kenapa dengan begitu mudahnya berganti kondisi menjadi tawa yang selalu dingin, kebersamaan yang tidak terlihat lg, dan yang paling utama runtuhnya tembok kemakluman dari salah satu dari kita, karena yang namanya maklum adalah rasa mampu menerima kekurangan seseorang tanpa syarat, dan tanpa pernah membahas hal tsb sebagai kekurangan mereka. Ada lagi yang bilang yang namanya sabar itu tanpa batas, dan mungkin batas kami kemarin terlalu dibuat buat, atau sebaiknya ada hal hal yang mampu dibicarakan dengan baik baik dan pikiran terbuka.
Saat ini, yang terjadi adalah nasi yang sudah menjadi bubur, batu yang semakin mengeras, air goa yang telah menjadi stalagtid dan stalagmid. Mungkin saat ini ketika rindu itu berkumpul saatnya aku berucap, kawan aku rindu. Terimakasih atas segalanya, jika memang begini adanya aku terima dan aku tetap berdoa untuk kesuksesanmu.
No comments:
Post a Comment