Thursday, January 23, 2014

About Him ...part 1

Dia lelah, aku tahu dia lelah. Bagaimana tidak bangun pukul setengah empat pagi, tiba di Jakarta pukul tujuh tiga puluh pagi setelah melakukan dinas luar selama 3 hari 2 malam. Tapi selama ini belum pernah dia berkata lelah ketika bersama dengan aku padahal aku tahu faktanya bahwa dia sedang lelah. Mungkin badannya memang sekuat baja, seperti pikiran positifnya yang tidak pernah luntur. 

Masa bodoh, dia masa bodoh atas segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Sehingga tak jarang ia diberi predikat orang cuek. Tapi ketika kamu menanyakan kepada dia pendapatnya mengenai suatu hal, kamu akan menemui fakta bahwa dia mengerti dengan sangat detail tentang semuanya, dan mengetahui pendapatnya hanya saja dia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Tahukan kamu, dia mengingatkanku pada buku "Don't Sweat The Small Stuff" yang selama ini menjadi pedomanku dalam menghadapi hal yang menyulitkan. Dia seakan telah mengimplementasikan buku tersebut dalam kehidupannya, hanya saja dia memilih untuk angkat kaki dari masalah yang menurutnya tidak berkaitan dengan dirinya, ya itu tentang pilihan, dan aku menghargainya.

Aku bangun pagi hari dengan pikiran akan bertemu dengannya hari ini, aku memiliki beberapa pilihan baju untuk dipakai, dan dengan beberapa pertimbangan akhirnya aku memutuskan untuk tampil cantik hari ini. Terkadang, aku merasa gengsi untuk tampil cantik, karena aku malu dan tidak ingin terlihat lebih bersemangat untuk bertemu dia dibanding dia sendiri. Namun, apa salahnya membuat senang seseorang yang sangat kamu sayangi bukan? Setelah baju dipakai, muncul pikiran bernada mengejek dalam otakku yaitu "Biasanya,, sudah penuh niat begini akhirnya nggak jadi ketemuan". Somehow, aku percaya bahwa jika kita berpikiran negatif maka yang akan terjadi adalah hal sebaliknya, yaitu hal positif.

Dia tiba dengan selamat di Jakarta, Alhamdulillah... tapi tak lama aku dapat kabar bahwa dia harus terbang ke kota lain pada malam harinya. Dinas luar yang lain lagi, sampai dengan hari minggu, sementara hari senin dia memang sudah dijadwalkan untuk ke kota lain lagi sampai dengan hari rabu minggu depan. Aku kaget, kalau memang benar dia harus dinas lalu minggu ini kita tidak akan bertemu sampai rabu minggu depan, dan itu jarang sekali terjadi. Aku berpikir bahwa dia pasti sedih, karena dia orang yang sangat lembut, dan butuh visual untuk menghapus rasa rindunya. Dia bukan tipe orang yang bisa LDR. Aku sedih, iya aku sedih jika memang hari ini tidak bisa bertemu dengannya. Dalam pikiranku "Benar kan, aku sudah niat seperti ini untuk bertemu tapi ternyata nggak kejadian.. hehe". Namun aku paham, jika aku semakin berlarut sedih dan kutunjukkan kesedihanku kepadanya dia akan semakin terlalu memikirkannya dan tidak bisa fokus untuk bekerja, kemudian aku ambil langkah bahwa semuanya akan baik- baik saja. Yeah, I hope so...


No comments: